Posted by
admin
|
Posted on
21.55
Category:
Karya Siswa
Karya : Kelas IV (empat)
Kakak tidur di pagi hari
Adik tidur di waktu malam
Janganlah kamu pergi
Tanpa memberi salam
Pak Haji dan Pak Lurah
Berpergiannya Kota Mekah
Kalau kamu banyak sedekah
Di akhirat membawa berkah
Tepuk tangan buat lingkaran
Sambil bernyanyi riang gembira
Mari kawan bergandengan tangan
Kita bersatu bagaii saudara
Jangan suka makan jambu
Jambu itu banyak rasanya
Jangan suka melawan ibu
Ibu itu bayak jasanya
Posted by
admin
|
Posted on
23.38
Category:
Berita
Dalam rangka meningkatkan kenyamanan dan untuk mendukung kegiatan belajar mengajar di Madrasah Ishlahuddiniyyah, pada beberapa hari terakhir dilaksanakan perbaikan dan pembangunan beberapa fasilitas yaitu pembangunan Kamar Mandi dan WC untuk siswa dan guru serta pembangunan gerbang madrasah.
Mohon maaf atas ketidaknyamanan selama beberapa hari ke depan. Dan mohon doa restu agar pembangunan cepat selesai dan dapat digunakan oleh seluruh warga madrasah.
Posted by
admin
|
Posted on
00.37
Category:
Berita
Ada yang berbeda pada Upacara Hari Senin tanggal 10 Januari 2011 yang lalu. Meskipun cuaca hujan gerimis pengibaran Bendera Merah Putih berlangsung dengan khidmat. Pada Upacara pertama pada Semester Genap itu yang menjadi petugas yaitu kelas IX (sembilan) dan Pembina Uacara yaitu Bapak Dina. Dalam amanatnya Pak Dina menekankan tentang budaya disiplin di madrasah. Karena menurutnya disiplin adalah kunci kesuksesan dunia dan akhirat.
Pada bagian saat pengumuman-pengumuman yang biasanya hanya diumumkan tentang petugas upacara untuk pekan depan, pada kali ini Pak Sukur juga mengumumkan juara sekaligus pemberian hadiah dan medali Turnamen Futsal pada saat Class Meeting semester lalu. Selain itu diumumkan pula Siswa Teladan pada Semester Ganjil yang jatuh kepada Amri Fatah dari kelas VIII (delapan).
Pemberian penghargaan terhadap siswa teladan dilakukan oleh Kepala MTs Ishlahuddiniyyah, Bapak Tatang. Pemberian penghargaan tersebut dimaksudkan agar siswa lain termotivasi untuk menjadi lebih baik di semester ini. Amin.
Posted by
admin
|
Posted on
00.06
Category:
Artikel
Oleh: Nur Faizin M
Pada dasarnya manusia dilahirkan memiliki karakter yang fitrah. Rasulallah SAW bersabda, "Setiap bayi dilahirkan di atas fitrah." (HR Bukhari Muslim). Allah SWT juga menegaskan bahwa setiap jiwa manusia telah berjanji untuk beriman kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya. Firman Allah: "Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): `Bukankah Aku ini Tuhanmu?' Mereka menjawab: `Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi'."(QS al-A`raf [7]: 172)
Namun, fitrah manusia tidak selamanya dapat dijaga sehingga setiap Muslim dapat menjadi pribadi-pribadi yang bersih dan jujur serta berakhlak karimah. Kemurnian fitrah manusia dapat dengan mudah terkontaminasi oleh pendidikan yang diberikan orang tua, masyarakat sekitar, dan bahkan sistem yang mendukung seseorang menjadi pribadi yang kehilangan karakternya.
Pribadi-pribadi yang kehilangan fitrahnya akan membentuk komunitas yang tidak berkarakter; mereka akan menjadi masyarakat jahiliyah dan cenderung plagiasi. Dalam konteks seperti itulah Allah SWT mengutus Nabi Muhammad SAW kepada orang-orang jahiliyah yang hidupnya hanya mengikuti nenek moyang mereka yang tersesat dan menyembah berhala.
Rasulallah SAW mulai mendidik karakter jahiliyah masyarakat Arab waktu itu dengan meluruskan ideologi atau keyakinannya. Beliau meluruskan kemusyrikan mereka dengan paradigma tauhid, yaitu meyakini bahwa hanya ada satu Tuhan yang berhak disembah dan menjadi tujuan hidup seluruh manusia di muka bumi. Karakter tauhid inilah yang menjadi landasan pendidikan karakter yang diajarkan oleh Rasulallah SAW dalam seluruh ajaran-ajarannya. Syariat atau aturan serta undang-undang tidak serta-merta diterapkan oleh Rasulallah SAW. Undang-undang atau sistem yang tidak dilandasi oleh ideologi atau paradigma yang lurus pasti tidak efektif. Oleh sebab itu, Rasulallah SAW baru mendirikan suatu komunitas setelah beliau mampu mendidik generasi Muhajirin dan Anshar yang berkarakter di Madinah.
Pendidikan karakter yang terpenting adalah pendidikan moral dan etika. Rasulallah SAW sendiri pun menegaskan hal itu dalam sabdanya, "Aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak karimah." (HR Ahmad dan yang lain). Menumbuhkan kembali akhlak karimah haruslah menjadi kompetensi dalam proses pendidikan karakter setiap bangsa.
Strategi Rasulullah SAW tersebut patut dijadikan teladan oleh bangsa kita. Tanpa paradigma yang tepat tentang hidup dan tujuannya, undang-undang dan sistem apa pun yang dibuat menjadi sia-sia belaka. Kita semestinya mampu menjaga kemurnian karakter, meluruskannya jika salah, membentuk sistem yang tidak merusaknya, serta mengawasinya dengan sebaik-baiknya. Wallahu a`lam.
Sumber : http://www.republika.co.id/berita/ensiklopedia-islam/hikmah/11/01/13/158247-hikmah-pendidikan-karakter